Jakarta, 4 Desember 2025 — Sebanyak 78 Program Studi Bisnis Digital dari berbagai wilayah Indonesia mengikuti Pelatihan Training of Trainers (ToT) Kurikulum Bisnis Digital yang diselenggarakan pada Kamis, 4 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Salah satu peserta aktif dalam kegiatan nasional ini adalah Program Studi Bisnis Digital Universitas Darunnajah Jakarta.
Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber utama Prof. Drs. B.M. Purwanto, M.B.A., Ph.D., pakar Kurikulum OBE di bidang bisnis, yang memberikan penjelasan mendalam mengenai pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan penyelarasan dengan KKNI.
Prof. Purwanto Tekankan Pentingnya Integrasi Kompetensi dan Keunikan Setiap Prodi
Dalam pemaparan materinya, Prof. Purwanto menegaskan bahwa kompetensi lulusan merupakan integrasi dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Oleh karena itu, kurikulum berbasis OBE harus memastikan bahwa seluruh capaian pembelajaran dapat diukur secara langsung sebelum mahasiswa lulus.
Beliau juga menekankan bahwa profil lulusan tidak boleh dideskripsikan sebagai “pekerjaan mahasiswa”, karena hal tersebut dapat menggeser paradigma dalam penyusunan kurikulum. Profil lulusan harus menggambarkan kompetensi, bukan jabatan.
“Tugas dosen bukan sekadar menilai, tetapi mengajar bersama mahasiswa. OBE itu sebenarnya jauh lebih mudah daripada KKNI, selama kita memahami prinsipnya.” — Prof. Purwanto
Penekanan pada Pengukuran Kompetensi dan Sistem Continuous Improvement
Prof. Purwanto juga menyampaikan bahwa:
-
CPL harus dapat diukur, karena CPL yang tidak dapat diukur tidak dapat dinilai.
-
Penilaian IPK tidak boleh diintegrasikan dengan penilaian kompetensi, keduanya harus berjalan secara terpisah.
-
Bahkan, beliau mencontohkan bahwa IPK maksimal di Harvard tidak lebih dari 3.5, mengajak peserta merefleksikan apakah IPK yang tinggi benar-benar mencerminkan kompetensi mahasiswa.
Narasumber juga menekankan bahwa lembaga akreditasi seperti Lamemba melihat kemampuan prodi dalam membangun sistem yang andal untuk continuous improvement, bukan sekadar standarisasi yang membuat kehilangan keunikan.
“Selesaikan masalah di tempat masing-masing. Setiap institusi punya kondisi unik dan itu yang harus menjadi dasar inovasi kurikulum.”
Visi, Misi, dan Strategi Sebagai Pondasi Utama Kurikulum
Salah satu poin penting lainnya adalah penjelasan mengenai peran misi program studi.
-
Visi dapat berubah, tetapi misi adalah pondasi yang tidak boleh berubah.
-
Penyusunan CPL bidang keilmuan harus memiliki dasar akademik yang jelas.
-
Rubrik adalah elemen penting dalam mendesain kurikulum, dianalogikan seperti “resep” dalam proses pembelajaran.
Beliau juga menantang peserta untuk menjawab pertanyaan fundamental:
“Mengapa Prodi Bisnis Digital didirikan?”
Pertanyaan ini menjadi dasar dalam merancang strategi dan arah pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri digital.
Prodi Bisnis Digital Universitas Darunnajah: Komitmen Mengembangkan Kurikulum yang Adaptif
Kehadiran Program Studi Bisnis Digital Universitas Darunnajah dalam pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat:
-
kualitas kurikulum yang berbasis OBE,
-
sistem penilaian kompetensi yang terukur,
-
serta pengembangan CPL yang sesuai kebutuhan industri digital.
Partisipasi ini juga menjadi bukti komitmen prodi dalam memastikan lulusan memiliki kompetensi unggul dan mampu bersaing di era transformasi digital.





